Mahasiswa Calon Guru yang Ingin Menjadi Gurunya Calon Guru

Rabu, 21 Desember 2011

makalah klasifikasi dan pembagian puisi

Tugas Kelompok III
Mata Kuliah: Kajian/Apresiasi Puisi

Makalah

Klasifikasi dan Pembagian Puisi





                                                                     
                                                                        Disusun:
H a r d i a n t i  (10533 5591 09)
Puji Lestari   (10533 5608 09)
Indo Aco   (10533 5592 09)
Firman (10533 5597 09)

BAHASA  DAN  SASTRA  INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2010-2011

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar  Belakang

Sastra Indonesia adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah Indonesia sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah politik di wilayah tersebut. Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan bahasa Melayu ( di mana bahasa Indonesia adalah satu turunannya).
Dengan demikian, sastra di Indonesia bermacam-macam. Bermacam-macamnya karya sastra yang ada di Indonesia menambah warisan luhur yang diwariskan sejak zaman purba dan menambah kekayaan kebudayaan bangsa Indonesia. Puisi salah satu karya sastra yang ada di Indonesia. Banyak karya sastra yang dilahirkan oleh para penyair yang ada di Indonesia baik dari penyair pada zaman penjajahan hingga sekarang.

B.     Rumusan Masalah

1.      Mendeskripsikan pembagian puisi !
2.      Pengertian setiap bagian-bagian dari puisi !

C.    Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memhami pembagia-pembagian puisi, baik dari periodisasinya maupun dari tema yang di ungkapkan sang penyair. Makalah ini dapat membantu para mahasiswa untuk mempermudah mengklasifikasikan pusi-puisi dari masa penjajahan hingga sekarang.








BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pembagian puisi berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan.
Ada bermacam-macam jenis puisi yang ditulis para penyair Indonesia. Karya sastra tidak bersifat otonom. Dalam memahami makna karya sastra, kita mengacu pada beberapa hal yang erat hubungannya dengan puisi tersebut. Dalam pemahaman puisi, hal yang dipandang erat hubungannya adalah jenis puisi itu sendiri dan sudut pandang penyair. Sebenarnya ada banyak sekali macam-macam puisi, dan bagaimana penyair dalam menyampaikan inspirasinya, serta bagaimana menafsirkan makna puisi dengan mudah. Sehingga mudah mengklasifikasikan, termasuk jenis puisi apakah yang kita ciptakan.

W.H Hudson menyatakan adanya puisi sebyektif dan puisi obyektif (1959:96). Cleanth Brooks menyebut adanya puisi naratif dan puisi deskriptif (1979:335-356). David Daiches menyebut adanya puisi fisik, platonic, dan metafisik (1948:145). X.J. Kennedy menyebut adanya puisi konkret dan balada (1071:116-226). Dalam kumpulan puisi Rendra, kita mengenal judul-judul: balada, romansa, stanza, serenada, dan sebagainya. Ada juga parable atau alegori. Sedangkan istilah ode, himne, puisi kamar, dan puisi auditorium juga sering kita jumpai.

1. Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif
Klasifikasi puisi ini berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan.

a. Puisi Narataif
Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair.
Balada adalah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut "Orang-orang Tercinta". Kumpulan baladanya yaitu, Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie.
Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantic berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan. Rendra juga banyak menulis romansa. Salah satu bagian dalam "Empat Kumpulan Sajak"nya berjudul "Romansa" dan berisi jenis puisi romansa, yakni kisah percintaan sebelum Rendra menikah. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul “Romance Perjalanan". Kisah cinta ini dapat huga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H. Priangan “Si Jelita”. Priode 1953-1961 banyak ditulis jenis romansa ini.

b. Puisi Lirik
Dalam puisi lirik penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya. Ia tidak bercerita. Jenis puisi lirik misalnya: elegi, ode, dan serenada.
Elegi adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya "Elegi Jakarta" karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota Jakarta.
Serenada adalah Sajak percintaan yang bisa dinyanyikan. Kata serenada berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam 'Empat Kumpulan Sajak'. Misalnya Serenada hitam, Serenada Biru, serenade Merah Jambu, serenade ungu, Serenada Kelabu, dan sebagainya. Warna-warna dibelakang serenada itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, kecewa, dan seterusnya.
Ode adalah Puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, sesuatu keadaan. Yang banyak ditulis adalah pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi. “Teratai” Sanusi Pane, “Diponegoro” Chairil Anwar, dan “Ode Buat Proklamator” Leon Agusta merupakan contoh ode yang bagus.
Berikut ini kutipan Ode Buat Proklamator, sebuah ode yang memuja tokoh proklamator Bung Karno dan Bung Hatta.

ODE BUAT PROKLAMATOR
Bertahun setelah kepergiannya kurindukan dai kembali
Dengan gelombang semangat halilintar dilahirkan sebuah negri; dalam Lumpur dan lumut
Dengan api menyapu kelam menjadi untaian permata hijau dibentangan cahaya abadi
Yang sesantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi menguak kabut gulita mendung, menerjang benteng demi benteng membalikkan arah to[pan, menjelmakan impian demi impian
Dengan seorang sahabatnya, mereka tanda tangani naskah itu
Mereka memancang tiang bendera, merobah nama dan peta, berjaga membacakan sejarah, menggenti bahasa pada buku
Lalu dia meniup terompet dengan selaksa nada kebangkitan sukma.

Kini kita ikut membubuhkan nama diatas bengkalainya; meruntuhkan sambil mencari, daftar mimpi membelit bulan perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan, di sawah terbuka yang sakti
Kata berpasirdibibir pantai hitam dan oh, lidahku yang terjepit, buih lenyap dilaut biru derap suara yang gempita Cuma bertahan atau menerkam
Ya, walau tak mudah, kurindukan semangatnya menyanyi kembali bersama gemuruh cinta yang membangun sejuta rajawali
Tak mengelak dalam bercumbu, biar berbisa perih dirabu
Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya yang pudar
Bagi negriku, bermimpi dibawah bayangan burung garuda
(Hukla 1979)

Dalam puisi ini, dapat diungkapkan rasa kagum penyair kepada sang proklamator. Ungkapan-ungkapan rasa kagum ini sangat mengena dan tidak bersifat klise. Kerinduan penyair untuk mendengarkan bara semangat yang ditiupkan lewat pidato-pidato yang berapi-api, dapat kita hayati sejak enam baris terakhir.

c. Puisi Deskriptif
Didepan telah dinyatakan bahwa dalam puisi deskriptif, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan / peristiwa, benda, atau suasana dipandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat diklasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya puisi satire, kritik sosial, dan puisi-puisi impresionitik.
Satire adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya.
Kritik Sosial adalah Puisi yang juga menyatakan ketidak senangan terhadap keadaan tau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidak beresan keadaan / orang tersebut.
Impresionistik adalah Puisi yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.

2. Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
Istilah puisi kamar dan puisi auditorium juga kita jumpai dalam buku kumpulan puisi ‘Hukla’ karya Leon Agusta. Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla (puisi yang mementingkan suara atau serangakaian suara).
Puisi Kamar ialah Puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di dalam kamar.
Puisi Auditorium adalah Puisi yang cocok dibaca di auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang.
Sajak-sajak Leon Agusta banyak yang dimaksudkan untuk sajak auditorium. Puisi-puisi Rendra kebanyakan adalah puisi auditorium yang baru memperlihatkan keindahannya setelah suaranya terdengar lewat pembacaan yang keras. Puisi auditorium disebut juga puisi oral karena cocok untuk dioralkan.

3. Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal
Pembagian puisi oleh David Daiches ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam puisi itu.
Puisi Fisikal adalah Puisi bersifat realistis, artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang didengar, dilihat, atau dirasakan merupakan obyek ciptaannya. Puisi-puisi naratif, balada, impresionistis, juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal.
Puisi Platonik adalah Puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Dapat dibandingkan dengan istilah 'Cinta Platonis' yang berarti cinta tanpa nafsu jasmaniah. Puisi-puisi ide atau cita-cita, religius, ungkapan cinta luhur seorang kekasih atau orang tua kepada anaknya dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi puisi platonik.
Puisi Metafisikal adalah Puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius disatu pihak dapat dinyatakan puisi platonic (menggambarkan ide atau gagasan penyair), dilain pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (menagjak pembaca merenungkan hidup, kehidupan, dan Tuhan), karya-karya mistik Hamzah Fansuri seperti Syair Dagang, Syair Perahu, dan Syair Si Burung Pingai dapat dipandang sebagai puisi metafisikal. Kasidah-kasidah “Al-Barzanji” karya Ja'far Al-Barzanji dan tasawuf karya Jalaludin Rumi dapat diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.


4. Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif
Puisi Subyektif disebut juga Puisi Personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang ditulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif, karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian pula puisi lirik dimana aku lirik bicara kepada pembaca.
Puisi Obyektif berarti Puisi yang mengungkapkan hal-hal diluar diri penyair itu sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakan adalah puisi obyektif, meskipun juga ada beberapa yang subyektif.

5. Puisi Konkret
Puisi konkret sangat terkenal dalam dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1770-an. X.J.Kennedy memberikan nama jenis puisi tertentu dengan nama puisi konkret, yakni puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut pandang (poem for the eye). Kita mengenal adanya bentuk grafis dari puisi, kaligrafi, ideogramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menunjukkan pengimajian lewat bentuk grafis. Dalam puisi konkret ini, tanda baca dan huruf-huruf sangat potensial membentuk gambar. Gambar wujud fisik yang 'kasat mata' lebih dipentingkan dari pada makna yang ingin disampaikan. Contoh dalam bahasa Inggris, misalnya karya Joice Klimer berikut ini :
t
ttt
rrrrrrr
eeeeeeeee
???

Kata yang hendak dinyatakan dalam puisi ini hanyalah 'tree', namun karena membentuk gambar pohon natal, maka pembaca mengetahui bahwa yang dimaksud penyair adalah pohon natal. Karya Sutardji banyak sekali yang dapat diklasifikasikan sebagai puisi konkret. Kemudian diikuti oleh penyair-penyair yang lebih muda. Puisi konkret ada yang berbentuk segi tiga, kerucut, belah ketupat, piala, tiang lingga, oval, spindle, ideografik, dan ada juga yang menunjukkan lambang tertentu.



6. Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis
Puisi Diafan atau puisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret dan bahasa figurative, sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi yang demikian akan sangat muda dihayati maknanya. Puisi-puisi anak-anak atau puisi karya mereka yang baru belajar menulis puisi dapat diklasifikasikan puisi diafan. Mereka belum mampu mengharmoniskan bentuk fisik untuk mengungkapkan makna. Dengan demikian penyair tersebut tidak memiliki kepekaan yang tepat dalam takarannya untuk lambang, kiasan, majas, dan sebagainya. Jika puisi terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sebaliknya jika puisi itu kering akan majas dan versifikasi, maka itu akan menjadi puisi yang bersifat prosaic dan terlalu cerlang sehingga diklasifikasikan sebagai puisi diafan.
Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma. Ada bermacam-macam makna yang muncul karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragam itu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut.
Penyair-penyair seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis. Namun belum tentu semua puisi yang dihasilkan bersifat prismatis. Hanya dalam suasana mood seorang penyair besar mampu menciptakan puisi prismatis. Jika puisi itu diciptakan tanpa kekuatan pengucapan, maka niscaya tidak akan dapat dihasilkan puisi prismatis. Puisi-puisi dari orang yang baru belajar menjadi penyair biasanya adalah puisi diafan. Namun kadang-kadang juga kita jumpai puisi gelap.

7. Puisi Pernasian, dan Puisi Inspiratif
Pernasian adalah sekelompok penyair Prancis pada pertengahan akhir abad 19 yang menunjukkan sifat puisi-puisi yang mengandung nilai keilmuan. Puisi pernasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair. Puisi-puisi yang ditulis oleh ilmuwan yang kebetulan mampu menulis puisi, kebanyakan adalah puisi pernasian. Puisi-puisi Rendra dalam “Potret Pembangunan” dalam puisi yang banyak berlatar belakang teori ekonomi dan sosiologi dapat diklasifikasikan sebagai puisi pernasian. Demikian juga puisi-puisi Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri yang sarat dengan pertimbangan keilmuan.
Puisi Inspiratif diciptakan berdasarkan mood atau passion. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar terlibat kedalam puisi itu. Dengan mood, puisi yang diciptakan akan memiliki tenaga gaib, sekali baca habis. Pembaca memerlukan waktu cukup untuk menafsirkan . puisi prosaic seperti karya penyair-penyair tahun 1970-an dibawah ini, termasuk puisi yang menggunakan bahasa pernassioan.

Karena Jajang
Tuhan
Saya minta duit
Buat beli sugus
Karena Jajang
Lagi doyan sugus

8. Stansa
Jenis puisi yang bernama stanza kita jumpai dalam Empat Kumpulan Sajak karya Rendra. Stanza artinya puisi yang tediri atas 8 baris. Stanza berbeda dengan oktaf karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam oktaf adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam setanza seluruh puisi itu hanya terdiri atas 8 baris. Berikut ini dikutip contoh stanza yang ditulis sekitar tahun 1969.

Malam kelabu
Ada angina mnerpa jendela
Ada langit berwarna kelabu
Hujan titik satu-Saturday menatap cakrawala malam jauh
Masih adakah kuncup-kuncup mekar
Atau semua telah layu
Kelu dalam seribu janji
Kelam dalam penantian.
(Herwa, 1969)


9. Puisi Demonstrasi dan Pamflet
Puisi demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufiq Ismail dan mereka yang oleh Jassin disebut angkatan 66. puisi ini melukiskan dan merupakan hasil refleksi demonstrasi para maha siswa dan pelajar sekitar tahun 1966. Menurut subagio Sastrowardoyo, puisi-puisi demonstrasi 1966 bersifat ke-kita-an, artinya melukiskan perasaan kelompok, bukan perasaan individu. Puisi-puisi mereka adalah endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional selama penyair terlibat dalam demonstrasi 1966. gaya paradoks dan ironi banyak kita jumpai. Sementara itu, kata-kata yang membakar semangat kelompok banyak dipergunakan, seperti kebenaran, kamanusiaan, tirani, kebatilan, dan sebagainya. Di bawah ini dikemukakan salah satu contoh.

Mimbar
Dari mimbar ini telah dibicarakan
Pikiran-pikiran dunia
Suara-suara kebebasan
Tanpa ketakutan

Dari mimbar ini diputar lagi
Sejarah kemanusiaan
Pengembangan teknologi
Tanpa ketakutan

Di kampus ini
Telah dipahatkan
Kemerdekaan

Segala despot dan tirani
Tidak bisa dirobohkan
Mimbar kami
(Taufiq Ismail, 1966)

Seperti halnya puisi pamflet, puisi-puisi demonstrasi merupakan ungkapan sepihak, sehingga kebenaran sulit ditrima secara obyektif. Pihak yang dibela diberikan tempat dan kedudukan yang terhormat dan serba benar, sedang pihak yang dikritik dilukiskan berada dalam posisi yang kurang simpatik.
Puisi pamflet juga mengungkapkan protes social. Disebut puisi pamflet karena bahasanya adalah bahasa pamflet. Kata-katanya mengungkapkan rasa tidak puaas kepada keadaan. Munculnya kata-kata yang berisi protes secara spontan tanpa proses pemikiran atau perenungan yang mendalam. Istilah-istilah gagah membela kelompoknya disertai dengan istilah tidak simpatik yang memojokkan pihak yang dikritik. Seperti halnya puisi demonstrasi, bahasa pusi pamflet juga bersifat prosaic.
Rendra adalah tokoh puisi pamflet. Didepan telah diberikan salah satu contoh puisi pamflet Rendra yang berjudul "Sajak Burung Kondor". Kata-kata cukong, dan kondom dinyatakan bersam dengan kata-kata penderitaan, kelaparan, dan kesengsaraan rakyat kecil yang dibela. Dalam pusi-puisi pamflet banyak kita jumpai kata-kata tabu yang diungkapkan penyair untuk menunjukkan kedongkolan hati penyair kepada pihak yang dikritik atau terhadap keadaan yang tidak memuaskan dirinya.
Puisi pamflet Rendra kehilangan makna konotatif, suatu kehebatan Rendra dalam menciptakan puisi pada tahun 50-an. Kata-kata kasar, ungkapan-ungkapan langsung ke sasaran, dan hiperbola yang bertujuan memojokkan pihak yang dikritik banyak kita jumpai dalam puisi-puisi pamflet Rendra. Puisi-puisi pamflet Rendra ini mengingatkan kita akan puisi-puisi Jerman pada awal industrialisasi di sana. Puisi-puisi pamflet Rendra kebetulan merupakan reaksi terhadap industrialisasi yang berkembang pesat sekitar tahun 1974 (seperti halnya puisi pamflet Jerman). Berikut ini dikutip salah satu puisi pamflet Rendra

Menghirup sebatang lisong,
Melihat Indonesia Raya,
Mendengar 130 juta rakyat,
Dan di langit
Dua tiga cukong mengangkang,
Berak diatas mereka
………………………………….
Delapan juta kanak-kanak
Menghadapi satu jalan panjang,
Tanpa pilihan,
Tanpa pohonan
Tanpa dangau persinggahan,
Tanpa ada bayangan ujungnya
…………………………………..
Menghisap udara
Yang disemprot deodorant,
Aku melihat sarjana-sarjana menganggur
Berpeluh di jalan raya;
Aku melihat wanita bunting
Antri uang pensiun
Dan di langit:
Para teknokrat berkata :
Bahwa bangsa kita adalah malas
Bahwa bangsa mesti dibangun
Mesti di up-grade,
Disesuaikan dengan teknologi yang diimport.
……………………………………………………
Bunga-bunga bangsa tahun depan
Berkunang-kunang pandang matanya,
Di bawah iklan berlampu neon.
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
Menjadai gembalau suara kacau,
Menjadi karang di bawah muka samudra.
Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
Keluar ke desa-desa,
Mencatat sendiri semua gejala,
Dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamflet masa darurat,
Apakah arti kesenian,
Bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
Bila terpisah dari masalah kehidupan.

10. Alegori
Puisi sering-sering mengungkapakan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah parable yang juga disebut dongeng perumpamaan. Dalam kitab suci banyak kita jumpai dongeng-dongeng perumpamaan yang maknanya dapat kita cari dibalik yang tersurat. Puisi "Teratai" karya Sanusi Pane boleh dikatakn sebagai puisi alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh pendidikan. Kisah tokoh pendidikan yang dilukiskan sebagai teratai itu digunakan untuk memberi nasihat kepada generasi muda agar mencontoh teladan 'teratai' itu. Cerita berbingkai seperti Panca Tantra, 1001 Malam, Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar juga dapat diklasifikasikan sebagai parable.

B.     Pembagian puisi berdasarkan waktu atau periodisasinya
            Dalam pembagian puisi kita juga sering mengenal yang berdasarkan waktu atau periodisasinya yaitu, Puisi lama, puisi baru, puisi bebas, dan puisi kontemporer. Keempat pembagian puisi ini akan kami jelaskan sebagai berikut :
1.      Puisi lama
Puisi lama dipahami sebagai bagian kebudayaan lama, yang sekaligus sebagai pancaran masyarakat lama. Adapun macam-macam puisi lama yaitu :
a)      Mantra
Mantra merupakan salah satu puisi lama yang tertua dan tidak mempunyai syarat-syarat seperti dalam pantun. Puisi ini berhubungan dengan kepercayaan. Kebanyakan isi mantra merupakan pujaan, kutuk, dan larangan. Orang yang berwenang mengucapkan mantra adalah pawang.
b)      Bidal
Bidal termasuk jenis puisi lama yang tertua. Dalam bidal biasanya digunakan kalimat-kalimat singkat yang mengnadung pengertian sindiran dan kiasan serta mengandung metrum dan irama tertentu. Adapun bidal dalam karya sastra lama dibagi 4 :
·         Peribahasa : kiasan
·         Pepatah : kalimat pendek yang digunakan untuk mematahkan ucapan orang lain.
·         Kata Arif : kata yang mengandung arti bijaksana
·         Pemeo : kalimat-kalimat pendek yang digunakan sebagai semboyan.
c)      Pantun
Menurut sebagian ahli kata pantun berasal dari Vtun. Akar kata tersebut berasal dari bahasa Kawi tuntun atau atuntun yang berarti mengatur. Adapun ciri-ciri pantun sebagai berikut :
·         Tiap baris empat suku kata
·         Tiap baris empat bait
·         Dua baris pertama disebut sampiran
·         Dua baris kedua disebut isi
·         Pantun bersajak a-b-a-d
d)     Talibun
Talibun ialah bentuk puisi semacam pantun yang tiap bait terdiri lebih empat baris. Kalau terdiri enam baris maka tiap baris bersajak a-b-c a-b-c. Kalau terdiri 8 baris tiap baris bersajak a-b-c-d a-b-c-d.
e)      Gurindam
Durindam berasal dari kesusastraan Hindu. Dalam bahasa Tamil gurindam disebut kirandam. Gurindam mempunyai arti misal atau perumpamaan. Ju lah barisnya hanya dua dan merupakan kalimat majemuk. Jumlah suku katanya tidak tentu dan iramanya pun tidak tentu atau tidak tetap.
f)       Karmina
Karmina dipergunakan untuk mencurahkan isi hati. Biasanya karmina disebut pantun kilat karena sajak, baris, dan sampiran serupa dengan pantun. Perbedaan dengan pantun hanya mengenal jumlah suku kata.
g)      Teka-teki
Teka-teki merupakan bentuk sastra lama yang sederhana. Contahnya : Keras-keras perak. Teka-teki ini menggambarkan tabiat seseorang yang mula-mula keras kemudian lunak karena mendengar nasehat, pikiran atau hal-hal lain.
h)      Seloka
Seloka merupakan salah satu bentuk puisi India yang masuk kesusastraan Melayu. Seloka di India terdiri dari 4x8 suku kata dan tidak bersasjak. Sedangkan dalam kesusastraan Melayu, seloka adalah puisi yang terdiri 4 baris tiuapbaris dan tiap bait terdiri 8-11 kata serta bersajak a-a-a-a. Baris pertama dan kedua merupakan lukisan alam sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi.
i)        Syair
Syair berasal dari kesusuastraan Arab. Secara etimologis kata syair berasal dari “syiir” = sajak yang berarti puisi. Syair merupakan puisi yang bersajak a-a-a-a, tiap bait 4 baris, satu baris terdiri 8-12 suku kata, keempat baris kalimatnya mempunyai hubungan arti dan isinya berupa nasihat, cerita,dsb.
j)        Masnawi
Jenis puisi ini merupakan hasil pengaruh kesusastraan Arab. Masnawi berisi puji-pujian untuk orang besar atau perbuatan yang penting, bersajak kembar sdan suku kjatanya 10,12 sampai 14.
k)      Rubai
Puisi ini terdiri 4 baris. Kadang-kadang bersajak pada dua baris berturut-turut. Panjang barisnya dan isinya tak tentu.
l)        Nazam
Puisi jenis ini terdiri 12 baris, bersajak kembar/dua-dua dan kadang-kadang pada 4 baris.
m)    Gazal
Gazal merupakan puisi yang berasal dari Parsi. Tiap baris terdiri 20 atau 22 suku kata dan tiap baris berakhir dengan kata yang sama. Sajaknya terdapat pada baris kedua dari belakang. Jenis puisi ini terdiri 8 baris.

2.      Puisi Baru
Istialah puisi baru merupakan penanda yang membedakan dengan puisi lama. Pengertian puisi baru mencakup adanya unsur pengaruh yang baru yaitu kesusastraan lama. Oleh sebab itu istilah tersebut implisit penemuan baru yang berbeda dengan tradisi sebelumnya. Puisi baru yang masuk ke dalam kesusastraan Indonesia adalah :
a)      Soneta
Soneta merupakan jenis puisi yang lahir di Italia sekitar pertengahan pertama abad XIII dan terkenal sesudah Dante. Kata soneta berasal dari bahasa Italia “Soneta” derivasi kata sono yang berarti suara. Dengan demikian soneta diartikan puisi yang bersuara. Soneta sebenarnya puisi untuk mencurahkan isi hati kepada seorang kekasih.
b)      Distichon               : sajak 2 seuntai
Terzina                  : sajak 3 seuntai
Quaqtrain             : sajak 4 seuntai
Quint                     : sajak 5 seuntai
Sextet                    : sajak 6 seuntai
Septina                  : sajak 7 seuntai
Stanza/Octaaf       : sajak 8 seuntai
3.      Puisi Bebas
Puisi bebas merupakan fakta yang membuktikan bahwa penyair-penyair Indonesia memiliki kepekaan berpikir dalam mengejar kemjuan yang setraf dengan dunia luar. Di samping itu juga membuktikan bahwa penyair Indonesia memiliki nilai kepribadian dalam rangka memperjuangkan kebebasab kreatifitas khusunya dalam mencipta puisi.
Puisi bebas adalah puisi yang tidak terikat oleh bait, jumlah suku kata dalam satu baris dan persajakan. Di Indonesia bentuk puisi ini berkembang dengan pesat. Proses awalnya berkembang pada angkatan pujangga baru dan berkembang pada angkatan 45 sampai sekarang.

4.      Puisi Kontemporer
Abad XX adalah abad ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengaruh abad ini sangat besar terhadap manusia. Akibat langsung dirasakan ialah terjadinya krisis sosial-politik, ekonomi dan nilai. Gerakan sastra kontemporer mencoba melihat kembali nilai dan sistem estetika. Oleh karena puisi berhubungan dengan bahsa maka persoalan pokok adalah bahasa.
Istialh kontemporer berarti dewasa ini. Puisi kontemporer adalah puisi Indonesia yang inkonvensional, yang juga disebut puisi aneh-aneh, puisi lugu, puisi beling. Drs. Sumardi dalam makalahnya “Mengintip Puisi Indonesia Kontemporer” mengemukakan ciri-ciri puisi kontemporer adalah sbb :
a.       Puisi yang menolak sama sekali kata sebagai media ekspresinya
b.      Puisi yang bertumpu pada simbol-simbol non kata, dan menampilkan kata seminimal mungkin sebagai intinya.
c.       Puisi yang bebas memasukkan unsur-unsur bahasa asing atau daerah.
d.      Puisi yang memakai kata-kata supra, kata-kata konvensional yang dijungkir balikkan dan belum dikenal masyarakat umum.
e.       Puisi yang menganggap tipografi secara cermat sebagai bagian dari daya atau alat ekspresi.
f.       Puisi yang berpijak pada bahasa konvensional, tetpai diberi tenaga baru dengan cara menciptakan idiom-idiom baru.









BAB III
PENUTUP

A.     Simpulan

W.H Hudson menyatakan adanya puisi sebyektif dan puisi obyektif (1959:96). Cleanth Brooks menyebut adanya puisi naratif dan puisi deskriptif (1979:335-356). David Daiches menyebut adanya puisi fisik, platonic, dan metafisik (1948:145). X.J. Kennedy menyebut adanya puisi konkret dan balada (1071:116-226). Dalam kumpulan puisi Rendra, kita mengenal judul-judul: balada, romansa, stanza, serenada, dan sebagainya. Ada juga parable atau alegori. Sedangkan istilah ode, himne, puisi kamar, dan puisi auditorium juga sering kita jumpai.
Dalam pembagian puisi kita juga sering mengenal yang berdasarkan waktu atau periodisasinya yaitu, Puisi lama, puisi baru, puisi bebas, dan puisi kontemporer. Keempat pembagian puisi ini akan kami jelaskan sebagai berikut :

B.     Saran

Semoga makalah ini bermanfaat bagi para mahasiswa maupun masyarakat dan menjadi tambahan ilmu pengetahuan. Kami berharap makalah ini dapat menjadi referensi dan bermanfaat bagi kita semua dalam memahami pembagian/klasifikasin puisi, sehingga dapat diterapkan kepada anak didik di sekolah. Semoga makalah ini dapat memperluas wawasan kita tentang pengajaran sastra.
Saran dan kritik dari bapak dosen sebagai penanggungjawab mata ku.liah ini serta dari teman-teman sangat kami harapkan karena makalah ini jauh dari kesempurnaan, sehingga kami dapat memperbaiki makalah kami kedepannya.














DAFTAR PUSTAKA




Diktat “Teori Sastra”. Universitas Muhammadiyah Makassar
E_mail add: kymaszay@yahoo.co.id  Diakses tanggal 21 Mei 2011
swarapujangga.blogspot.com”Pembagian Puisi” Diakses tanggal 21 Mei 2011
karyaswarapujangga.blogspot.com Diakses tanggal 21 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar